Minggu, 30 Maret 2025

Pelaksanaan Zakat Fitrah, Zakat Mal, dan Shodaqoh Jariyah di Masjid Al Amin Jatisari RW 01 Wringin Agung, Gambiran, Banyuwangi

 

Pada tanggal 30 Maret 2025, Masjid Al Amin Jatisari RW 01 Wringin Agung, Gambiran, Banyuwangi, kembali menyelenggarakan kegiatan penyaluran zakat fitrah, zakat mal, serta shodaqoh jariyah/infaq. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan serta meningkatkan kepedulian sosial umat Islam terhadap sesama.



Kepanitiaan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan zakat tahun ini dikelola oleh anggota keta’miran Masjid Al Amin yang dibantu oleh Remaja Masjid (Remas) serta beberapa perwakilan dari RT di RW 01. Dengan adanya koordinasi yang baik antara berbagai pihak, proses pengumpulan dan distribusi zakat dapat berjalan dengan lancar dan tepat sasaran.

Perolehan dan Distribusi Zakat Fitrah

Tahun ini, zakat fitrah yang terkumpul mencapai 1.223 kg beras. Zakat ini kemudian didistribusikan kepada penerima yang berhak sebagai berikut:

  • 80 orang fakir miskin masing-masing menerima 10 kg.
  • 18 orang amil masing-masing menerima 8 kg.
  • 31 orang dalam kategori fi sabilillah masing-masing menerima 9 kg.

Dengan sistem distribusi ini, diharapkan zakat fitrah dapat membantu penerima untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka di akhir Ramadan dan menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan lebih baik.

Zakat Mal

Pada kesempatan ini, zakat mal yang terkumpul berasal dari seorang dermawan, yaitu Pak H. Wat Hadi, dengan jumlah Rp 4.000.000. Zakat mal ini kemudian disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat Islam, seperti fakir miskin, gharim (orang yang memiliki hutang), serta untuk kepentingan fi sabilillah.



Shodaqoh Jariyah dan Infaq

Selain zakat fitrah dan zakat mal, Masjid Al Amin juga menerima sumbangan amal jariyah atau infaq dari berbagai pihak dengan jumlah total Rp 6.446.000. Dana ini akan digunakan untuk berbagai keperluan masjid, seperti perbaikan fasilitas, penyediaan kebutuhan ibadah, serta kegiatan sosial lainnya.

Juga seorang dermawan yang sumbangan amalnya khusus untuk pembangunan masjid yaitu Bapak nurudin sebesar lima juta rupiah.

Tak hanya berupa uang, shodaqoh juga diterima dalam bentuk beras sebanyak 356 kg, yang berasal dari:

  • New Surya Hotel
  • Pabrik Beras SB
  • Bapak H. Wat Hadi

Beras ini akan digunakan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu serta menunjang berbagai kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh Masjid Al Amin.



Penutup

Pelaksanaan zakat fitrah, zakat mal, dan shodaqoh jariyah/infaq di Masjid Al Amin tahun ini berjalan dengan lancar berkat kerja sama dan partisipasi aktif berbagai pihak. Semoga kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi para penerima, tetapi juga menjadi ladang pahala bagi para pemberi serta semakin mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan RW 01 Wringin Agung, Gambiran, Banyuwangi.

Semoga kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan semakin berkembang di masa yang akan datang, sehingga keberkahan Ramadan dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

 

Selasa, 22 Oktober 2024

Peringatan Hari Santri di Ma'had Amanatulloh Berlangsung Dengan Hikmat

 

   Hari Santri yang jatuh pada hari ini diperingati dengan khidmat di Ma'had Amanatulloh Wringinagung, Gambiran, Banyuwangi. Sebanyak 1.150 santri putra dan putri, serta para guru dari sekolah formal SMP dan MA Amanatulloh, turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan. Upacara dimulai tepat pukul 07.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 08.30 WIB, dipimpin oleh pembina upacara, Bapak M. Sihabuddin Nasrullah, S.Psi., M.Pd., atau yang akrab disapa Gus Nasrul.

Meskipun cuaca terik menyelimuti lapangan, semangat para santri tidak surut. Mereka mengikuti setiap prosesi dengan penuh disiplin dan perhatian. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kabid Dikjar SMP dan MA Amanatulloh, Bapak H. Amir Mahmud, S.Ag., SP, yang ikut memantau jalannya upacara.

Pesan Inspiratif dari Gus Nasrul

   Dalam amanat upacaranya, Gus Nasrul menyampaikan pesan yang mendalam bagi seluruh santri, dengan mengutip nasihat dari Imam Syafi'i, “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.” Pesan ini diharapkan menjadi motivasi bagi para santri untuk terus semangat menuntut ilmu, meski dalam situasi yang tidak selalu mudah.

   Belajar memang menuntut kesabaran, keuletan, dan ketekunan, namun hasilnya akan membawa kebaikan dan kemuliaan di masa depan. Sebaliknya, kebodohan hanya akan membawa pada penyesalan dan kesulitan hidup. Nasihat Imam Syafi’i ini seakan menjadi pengingat bagi para santri bahwa ilmu adalah kunci kehidupan yang lebih baik, dan perjuangan dalam menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah.

Gus Nasrul juga menekankan bahwa santri adalah penerus perjuangan para ulama, sehingga mereka harus menyiapkan diri dengan bekal ilmu pengetahuan yang luas dan akhlak yang mulia.

Lomba Kepesantrenan dan Pentas Seni

   Setelah upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai lomba kepesantrenan. Lomba-lomba tersebut dirancang untuk menguji kemampuan para santri dalam bidang ilmu agama, termasuk lomba membaca Al-Qur’an, pidato keagamaan, dan keterampilan membaca kitab kuning. Para santri tampak antusias mengikuti lomba-lomba tersebut, yang tidak hanya menjadi ajang kompetisi tetapi juga wadah untuk memperdalam ilmu dan mempererat ukhuwah Islamiyah di antara mereka.

   Selain lomba, acara Hari Santri ini juga dimeriahkan dengan kegiatan pentas seni. Dalam pentas ini, para santri menampilkan berbagai kreativitas seni yang mereka miliki, seperti drama islami, nasyid, dan seni tari. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengekspresikan bakat seni para santri sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ajaran Islam.

Penampilan drama kolosal yang menceritakan perjuangan santri dalam menuntut ilmu di tengah berbagai tantangan menjadi salah satu acara yang paling memukau. Dengan penuh penghayatan, para santri menggambarkan betapa pentingnya semangat belajar dan perjuangan dalam menghadapi tantangan hidup.

Refleksi dan Harapan

   Peringatan Hari Santri di Ma’had Amanatulloh Wringinagung ini bukan hanya sekadar acara seremonial, melainkan momen refleksi bagi para santri untuk terus meningkatkan kualitas diri. Mereka diingatkan akan pentingnya menuntut ilmu dan menjaga akhlak sebagai santri yang akan menjadi penerus bangsa dan agama.

    Dengan berakhirnya acara tersebut, semangat para santri semakin menyala untuk terus menimba ilmu dan mengembangkan diri. Mereka pulang dengan pesan penting bahwa perjuangan belajar tidak akan pernah sia-sia. Peringatan Hari Santri ini pun menjadi pengingat bahwa santri memiliki peran besar dalam menjaga, mengembangkan, dan meneruskan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat.

   
Semoga melalui peringatan ini, para santri semakin termotivasi untuk menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu berkontribusi bagi agama, bangsa, dan negara di masa depan.

Sabtu, 10 November 2012

Sepenggal Cinta Di Hati Elang

Oleh: Mars Hayrusd
Entah berapa lama waktu yang telah dia habiskan untuk menyesali kesendirianya. Dia merasa tak berarti , hidupnya tak jauh beda dengan seonggok daging dan tulang tak bernyawa, terlalu dalam dia terjerumus di liang kesendirian. Elang, ya dia lelaki yang dari waktu ke waktu terjerembab di lobang keterasingan. Elang yang tak lagi perkasa , dia hanya pecundang yang dikalahkan oleh emosi serta mimpi – mimpinya.

Jumat, 09 November 2012

Joged Timuhun

Oleh: Gde Aryantha Soethama

Asap dari dapur mengepul di sela tipis halimun pagi, menebarkan aroma gurih bawang goreng. Landri mendongakkan kepala dari jendela ketika mendengar langkah-langkah Tingkep memasuki halaman, disusul sekilas gonggong anjing

Perca

Oleh: Wa Ode Wulan Ratna

Kuletakkan buku yang habis kubaca semalaman itu di meja belajarku. Pandanganku menyapu ke luar jendela, saat matahari pukul delapan melela. Perempuan ramping berumur empat puluh delapan tahun itu melintas seperti biasa, beranjak ke pasar di sebuah simpang jalan.

Matinya Seorang Guru Mengaji

Oleh: Raudal Tanjung Banua
Sehabis jalan menikung, dengan aspal yang mengelupas, Aida, gadis kecil berkerudung yang melangkah tergesa ini, akan bersua rumah panggung Uncu Eba, rumah tua miring milik guru mengaji yang paling disegani di selatan kampung.

Tuhan Datang

Oleh:Riki Dhamparan Putra
Semua ini hanya terjadi di sebuah kota bernama Suf. Terletak beberapa tingkat di atas dunia yang kita huni sekarang.Namun kalau ditanya persisnya di mana kota Suf itu, saya juga tak tahu. Cerita tentang kota ini saya dengar dari Haji Kamungkin. Ia katanya mendapat berkah untuk berkunjung ke kota tersebut selepas menunaikan ibadah haji di Makkah.