Minggu, 04 November 2012

UJUNG TALI PERKAWINAN

Oleh : Mars Hayrusd
Seringkali Firjoun berhayal, suatu hari nanti ia akan menjelma jadi elang, terbang melintasi tebing tinggi, menantang badai, menembus pelangi di tengah kilau musim semi. Pada saat itu akan ia rasakan harum bunga di tengah cahaya pagi.

“Gus! Aku berharap, hari yang indah itu datang untukku, menghampiri dan membuka jendela rumahku. Pada saat itulah ketika kubuka pintu kamar, aku berubah jadi elang yang mencengkeram asa dengan kuku tajam dan kokoh paruhku.”
Firjoun berceloteh nerocos dengan menatap hamparan lembah hijau yang tersapu lembayung pagi. ”Atau paling tidak aku jadi seekor gagak hitam. “
Agustaf yang mendengar hanya tersenyum saja. ” Kalau aku punya keinginan, nggak neko-neko sepereti kamu, pasti aku memilih jadi kutu.”
“Emangnya apa yang bisa diperbuat seekor kutu ?”
“Aku bisa meloncat ke mana aku suka setiap saat dan tak ada yang tahu. Aku akan beranak pinak di kepalamu dan mengeram di sela-sela helai rambutmu. Biar aku tahu semua mimpi-mimpi yang mengendap di kepalamu.”
“Terlalu naif Bung “
“Yah...! Terlalu naif memang. Aku nggak punya angan-angan yang muluk-muluk seperti kamu.” Agustaf sedikit mengangkat alis, dan tampak kerutan di dahinya.
“Lagi pula aku tidak ingin berdebat denganmu. Kamu hanya ingin, aku mau mendengar keluh kesah tentang rumah tanggamu kan ?”
“Thank Gus, kau tahu yang kumau.”
Firjoun kembali melempar pandangan ke lembah ngarai yang tersapu angin pagi, pada semak perdu yang menawarkan sejuta mimpi, pada rerimbun ilalang, yang bisa menghapus segala dendam .
Firjoun sangat menyukai tempat ini. Vila yang menawarkan sunyi namun tak perlu menutup pintu jendela, untuk menerima renyah nyanyian murai, dan pancaran mentari pagi yang menembus tirai. Inilah tempat favorit Firjoun untuk melepas lelah dan jengah yang tengah menghimpit batinnya. Ia datang ke villa ini untuk sekedar ingin ketemu sahabatnya, Agustaf, ia ingin ngobrol atau meluapkan keluh kesah tentang perkawinannya yang membosankan.
“ Mestinya kau harus berani jujur Joun, pada permasalahan ini.”
Firjoun tak bereaksi, hanya menatap hamparan ilalang dan semak yang memancarkan kilatan cahaya pagi. Pagi yang indah, tapi tak seindah hatinya. Berbagai persoalan rumah tangga telah menumpuk dan menggumpal dalam batinnya. Ia sudah berusaha mengatasinya, tetapi kian hari ia rasakan betapa perkawinannya membenamkan pada kejengahan dan kebosanan.
“Ku pikir kamu nggak salah Gus, memang seharusnya aku tak usah menikah.” gumam Firjoun pada dirinya sendiri.
Tetapi nggak tahulah, ia merasa gamang. Apa salah ia memutuskan untuk menikahi Winda. Seorang gadis yang sudah dikenal sejak kecil, karena kedekatan keluarganya dengan keluarga Firjoun. Atau hutang budi keluarga sehingga dirinya tergadai. Pada awalnya ia pasrah pada nasib, inilah jodoh yang diberikan Tuhan untuknya. Inilah awal bahagia yang bakal bisa ia raih bersama Winda.
Mengayuh bahtera bersama, dan punya anak yang lucu-lucu, O! ternyata tak segampang itu.
Pada mulanya Firjoun hanya bisa tersenyum kecut bila Agustaf mengatakan hidupnya mulus, lurus seperti penggaris .
“Dulu aku sudah bilang bung, berumah tangga lebih menyakitkan daripada kematian .” sergah Agustaf.
“Itu karena kamu membenci perkawinan kan, karena kamu ingin bebas, hinggap ke sana kemari, ke setiap wanita yang kamu sukai.” balas Firjoun.
“Ha ha ha bukan begitu Joun, tak usah salah paham lah .” Agustaf terbahak.
Kerap kali Firjoun merasa iri dengan keriangan Agustaf, dalam menjalani setiap kegetiran hidup. Bagi Agustaf, hidup begitu indah, sumringah tanpa ada celah untuk gundah. Memang prinsip Agustaf hidup ini dibuat seringan mungkin, tanpa harus ada beban. Kenapa hidup sekali harus dibikin merana, bagi Agustaf tak ada kamus untuk itu.
*****
“Sama sekali aku tidak membenci perkawinan Joun. Hanya saja logikaku belum mau menerima itu. Analisaku, sebuah perkawinan itu hanya sebagai ritual hidup untuk memperbanyak keturunan, dan itu sebuah produk budaya manusia saja. Kamu tidak percaya? Lihat saja buku Undang-Undang Perkawinan yang diterbitkan pemerintah yang telah beredar di masyarakat, itu semua produk manusia, kita tidak serta merta harus mematuhinya begitu saja, kita perlu menganalisa secara cermat agar keinginan-keinginan orang macam aku bisa tersalurkan he he he. Dan perlu kamu tahu, bagiku datang ke sebuah pesta perkawinan adalah sebuah malapetaka yang sangat menyakitkan dari pada terjatuh dari motor di jalanan. Perihnya luka akibat jatuh dari motor itu hanya sebatas kulit luar saja dan tak seberapa rasanya, tetapi luka hati karena gagalnya sebuah perkawinan itu jauh lebih pedih dan sangat menyakitkan. Andaikan keduanya sama- sama mati, kematian sebab hancurnya perkawinan itu jauh lebih tragis dan mengenaskan. Kematian itu suatu keniscayaan, tapi jangan sampai mati kita akibat dari perkawinan yang kandas.” Agustaf berkata dengan tanpa beban.
“Tapi ajaran agama memerintahkan umatnya untuk menjalani perkawinan demi melangsungkan keturunan dan tetap lestarinya umat manusia di muka bumi ini. Coba bayangkan jika semua manusia tak percaya dengan perkawinan dan tidak mau membentuk sebuah keluarga, apa yang akan terjadi di alam ini?” Firjoun tak kalah dalam menyampaikan argumentasinya.
“Tapi perkawinan? Apakah itu suatu kewajiban yang harus dijalani setiap orang? Bukankah kita bisa untuk tidak melakukannya? Kita toh bisa bahagia tanpa harus kawin. Artinya kita punya kebebasan untuk menentukan apa yang terbaik dalam hidup kita. Apa artinya perkawinan kalau kita tak bahagia menjalaninya? Kau tahu Tuhan dan para malaikat tak pernah menikah , tapi mereka bahagia...........”
Firjoun serasa tercekik, tapi Agustaf malah terkikik. “ Tentunya kamu perlu nyoba sesuatu dalam hidupmu yang hambar itu. Kamu mesti melakukan sedikit penyegaran.”
“Bercinta di kamar mandi ? Sambil nungging atau berdiri atau bahkan sambil jalan?”
“Masih ada yang lain.”
“Lalu apa ? Mencoba bergumul sama kamu?!”
“Sorry walau tak yakin dengan perkawinan, aku masih seratus persen doyan perempuani Bro......”
“Dasar!”
Sejenak keduanya terdiam, namun mata keduanya saling pandang untuk meraba isi hati masing-masing. Di mata Agustaf, Firjoun begitu dingin dan lemah, seperti bongkahan es yang keras namun mudah meleleh. Saat-saat seperti ini Agustaf merasa bersalah karena seringkali ia merasa iri pada Firjoun. Adakah Firjoun mengerti sebenarnya ia sering kali ingin mencelakainya.
Pada masa kecil, Agustaf selalu ingin Firjoun merasakan bagaimana sakitnya di jewer telinganya, juga sering ditampar oleh ayahnya yang galak, walau hanya satu kesalahan kecil saja. Tapi Firjoun menjalani masa kecilnya dengan penuh kehangatan. Juga masa remaja yang lurus-lurus saja. Keakraban antar anggota keluarga, kesabaran menerima keadaan, kesederhanaan dan kegigihan kedua orang tuanya, namun berhasil mengantarkan pendidikana anak-anaknya termasuk Firjoun, dan akhirnya bisa menikahi Winda. Semua itu yang membuat Agustaf merasa iri pada Firjoun, walaupun rasa irinya tersimpan rapi dalam hati. Ia iri karena selalu merasa nasibnya tak sebaik Firjoun.
“Pendapatmu bagaimana, apakah aku harus mempertahankan keutuhan rumah tanggaku?”
“Aku sudah bisa menebak, kamu dan seluruh keluargamu pasti takkan pernah berfikir bahwa perceraian itu solusinya. Kalau kamu memang ingin segalanya sukses, jangan hanya mempertahankan perkawinanmu, tetapi juga hidupmu, serta mimpi mimpimu, agar perkawinanmu tidak tambah merana.”
Mungkin perkawinanku sudah sedemiakian hancur dan menyebalkan, batin Firjoun hingga aku kerap berimajinasi kalau suatu saat nanti aku berubah jadi elang, terbang tinggi melanglang buana melintasi awan tinggi.
Tak terduga sebelumnya kepedihan itu kian ia rasakan. Sebenarnya Winda tetap menghormati dan meladeni keperluannya, walaupun perhatian itu hanya sebatas memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, dan itu ia rasakan tak lebih sekedar rutinitas saja. Lalu sindiran sindiran yang menyakitkan. Seorang lelaki sebagai kepala keluarga seharusnya punya pekerjaan yang menjanjikan, penghasilan lebih, seorang lelaki sebagai penopang keluarga, kenapa tak mampu memenuhi kebutuhan istri baik lahir maupun batin dan yang terpenting aku ingin anak. Dari perdebatan kecil dan akhirnya berubah jadi pertikaian yang membuatnya merasa dirinya tak punya arti lagi. Kemudian percakapan mereka lebih banyak menambah derita hati. Lukisan perkawinan yang tergantung indah di ruang tamu tak ada artinya sama sekali. Lukisan bahagia saat berdiri megah di pelaminan, berbingkai warna emas, bagi Firjoun sekarang berubah buram, kusam tak ada pancaran cahaya lagi.
****
Firjoun merasa senang kenal Agustaf, yang selalu mau mendengar keluhannya. Bagi Firjoun, Agustaf satu satunya sahabat yang mau mengerti dirinya. Dengan alasan itulah Firjoun tak canggung bercerita. Tak sungkan menyampaikan kegelisahan hatinya ketika kesepian kian mendera, ketika ia ingin terbang jauh melintasi pelangi, ketika ia merasa dirinya pelan-pelan ber evolusi menjadi elang perkasa. “Sungguh Gus aku berubah menjadi elang. Itulah hari paling menyenangkan. Begitu ringan aku melayang menembus awan.”
Agustaf hanya tertawa sebagaimana biasanya, kedengarannya renyah sumringah seperti menikamti kripik singkong.” Kamu ragu dengan ceritaku ?” “So pasti, tidak.” Agustaf masih menyimpan tawa, lebih berbinar dan kelihatan bahagia. “Aku percaya dan merasa kalau kamu lagi jatuh cinta!”
“Nggak ah.”Firjoun menepis pernyataan Agustaf, ia tak bisa menyimpan perasaannya. Busyet! Ia selalu bisa membaca perasaanku.Batin Firjoun gusar.
“ Kenapa mesti malu mengakui? Aku pernah bilang kan, mempertahankan hidupmu jauh lebih penting dari pada keutuhan perkawinan yang menjemukan.” Agustaf menggeser posisinya untuk duduk lebih dekat. “Cobalah cerita siapa perempuan yang membuatmu jadi elang?”
*****
Firjoun menikmati indahnya senja yang banyak menyimpan rahasia. Pada awal senja ini pula ia bersua perempuan itu. Saat itu senja hampir sempurna dan langit remang remang. Perempuan itu muncul sekan akan diantar dengan When I need you nya Julius Iglaseas.
Mereka berpandangan sekejap. Hanya sekejap tetapi Firjoun merasakan geteran yang tak terbendung. Tak ada kata yang terucap, perempuan itu sangat mengagumkan dalam diam. Serasa menikmati nyanyian pagi, merenung di kesunyian abadi. Saat itulah ia merasakan bulu bulu halus bertumbuhan di sekujur tubuh. Kuku-kuku tajam tumbuh menjulur di pucuk jemarinya, hitam kekar mencengkeram asa dan kokoh paruh siap memetuk apa saja yang ada di depannya. Saat itulah Firjoun merasakan dirinya menjelma menjadi elang. Dan perempuan itu mendekat, tidak dengan kata kata, tapi lewat bicara mata dengan diam penuh makna.
Kehadiran perempuan itu sangat berarti baginya, bagai setitik air di padang gersang, pelepas dahaga yang telah lama dia idam-idamkan. Pertemuan itu selalu berulang dan berulang. Firjoun tahu perempuan itu seorang penari yang menciptakan semua keajaiban dengan gerak dan bahasa tubuhnya. Namanya Nungki.
“ Kau tahu Gus.” ucap Firjoun sedikit mendongakkan kepala, mengakhiri kisahnya.
”Pertama kukenal dia, aku mulai merasa jatuh di kubangan dosa.”
“ Hmmm Dosa? menurutku itu akan membuatmu makin sempurna sebagai lelaki .”
“Ini sebuah rahasia yang tak boleh terkuak oleh siapapun kecuali kita...”
“ Oh ya?” Agustaf memainkan sebatang rokok di sela-sela jemarinya kemudian menghisapnya dalam dalam dan mengepulkan asap dari bibirnya, dengan kepulan berbentuk lingkaran-lingkaran yang tak beraturan. Begitu banyak rahasia diantara kita, batinnya. Akupun juga punya rahasia yang kusembunyikan dari kamu. Biarlah kita menyimpan rahasia kita masing masing.
“ Kumohon Gus. Jangan sampai Winda tahu.” Agustaf tak memberi jawaban, dia hanya tersenyum, senyuman misteri yang menyimpan rahasia besar, hanya dia sendiri yang tahu.
“Lakukan, apa yang menurutmu baik dan membuatmu bisa bahagia.” kata Agustaf. "Aku Cuma bisa berharap kamu benar benar menikmatinya sebagai pelengkap hidupmu yang gamang ini. Karena ku tahu, seks itu seperti kacang goreng. Begitu kamu mulai menguyah dan merasakan gurihnya, kamu akan menghabiskan sebungkus kacang goreng itu, dan ingin mengunyahnya terus sampai ludes.....”
Keduanya tertawa. Hidup memang terasa ringan dan riang bersama Agustaf, senja jadi biru saat perselingkuhan tak ketahuan. Sentuhan lembut di telinga, kecupan ringan dibibir, semua terasa indah untuk dikenang.
Gemulai tarian dan kelihaian menawarkan gerak yang menakjubkan hingga dia terhanyut dan terlena ketika perempuan itu bergelayut manja di pundaknya..........
Bersama Nungki, Firjoun selalu berubah menjelma jadi elang, terbang tinggi melintasi awan tinggi di tengah kilau musim semi. Nungki mengerti perasaannya, mungkin karena ia seorang penari yang berperasaan halus.
“Setiap bersamamu, aku merasakan betapa indahnya dunia, dan aku tak ingin berbagi kepada siapa saja, aku ingin menikmatinya sendiri hanya bersamamu.”ucap Firjoun di hadapan Nungki.
Keduanya saling merapat, saling ingin memberi kehangatan dan desir darah berkesiur yang membuat bulu kuduk merinding, tubuhnya ringan seperti kapas melayang layang melintas tebing tinggi melambung di langit biru dan akhirnya jatuh terkulai lemas dengan desah dan lenguhan lirih yang dipenuhi basah peluh bahagia.
*****
Terburu buru Firjoun segera membuka pintu, menyambar celana, merapikan kancing baju dan secepat kilat ia keluar dari kamar hotel, dan langsung tancap gas agar segera sampai di rumah tak kedahuluan Winda. Segera mandi agar tak ada bekas bau parfum dan keringat yang melekat dari perempuan itu.
Jarum jam sudah menunjukkan jam sebelas malam tapi Winda belum juga datang. Hati Firjoun gusar, cemas, penuh tanda tanya, tak biasanya Winda pergi sampai selarut ini, kemana dia pergi tak ada yang tahu, tak ada pesan kepada siapapun Mbak Jum pun juga tak tahu kemana majikannya pergi, tak ada pesan dari Winda. Hpnya pun mati, tak bisa dihubungi, kemana dan di mana Winda sekarang? Firjoun kehilangan kontak dengan istrinya. Kejanggalan demi kejanggalan telah lama ia rasakan pada akhir akhir ini dalam rumah tangganya. Istrinya tak sehangat dulu, cuek , diam dan berwajah kusut di depannya. Firjoun merasa dirinya tak berarti apa- apa , dia merasa tergadai dengan segala fasilitas yang dinikmati dari keluarga Winda. Tapi dia juga merasa sedikit lega, karena ketiadaan Winda, ia tak perlu mengarang cerita, kenapa ia tak mau mengangkat telphon atau membalas SMS.
Ia tidak takut kehilangan Winda, tidak mungkin ia berani menggugat cerai karena kesepakatan kedua keluarga besarnya yang telah mengikatnya. Ia hanya takut dipersalahkan keluarganya kalau dia sebagai lelaki yang tak punya kepribadian, lelaki tak bertanggung jawab yang mudah tergiur kecantikan wanita.
Lagi pula ia tak ingin menikah dengan perempuan itu, dengan Nungki, meskipun ia membuatnya jadi elang. Ia tak ingin menikah dengan seorang penari. Yang ia tahu seorang penari akan merepotkan dirinya ketika menjadi seporang istri.
Di rumahnya masih sepi, Firjoun sedikit merasa lega, ia hanya bisa menatap lukisan perkawinan yang menempel di dinding, yang membuatnya bahagia sekaligus sedih, dua sejoli yang bersanding bak Pangeran Kamajaya dan Dewi Ratih, yang tersenyum penuh bahagia, mungkinkah perkawinannnya harus terhempas dan kandas? Ikrar ikatan perkawinan di depan penghulu dengan disaksikan seluruh keluarga besar haruskah ternoda? Kengerian yang tak terbayang.
Ia hanya bisa berharap Winda pulang terlambat, agar ia bisa menata kegundahan hatinya. Ia perlu mandi, membersihkan badan dan merasa segar.
Ia takut kalau tadi Winda sudah telphon rumah. Mbak Jum pun tidak tahu menahu kemana Majikan perempuannya pergi.
Andaikan ia tanya ke Mbak Jum, pasti ia malah curiga, malah akan bertanya-tanya kenapa majikan laki-lakinya kelihatan kusut dan panik.
Ia perlu dewa penolong untuk menyelamatkan dirinya.
Ia perlu menelphon Agustaf.
”Halo Gus, nanti kalau Winda telphon kamu di mana aku, bilang aja seharian kamu bersamaku, kamu mengerti kan?”
”Oke aku tahu kok.”
“Makasih, Bung.”Firjoun menutup telphonnya.
“Dari siapa?”tanya Winda.
Agustaf diam, tak menjawab pertanyaan Winda, dia hanya tercenung di pinggir ranjang. Satu ketololan yang bisa membinasakan aku, kenapa Hp tak kumatikan? Batin Agustaf
“Kenapa diam? Ada apa?”
“Firjoun.” Agustaf menunjukkan hand phonenya pada Winda.
”Apa dia mulai curiga tentang kebusukan kita?”
“Sudahlah jangan dirisaukan!”tegas Agustaf sambil memeluk erat tubuh Winda yang putih pualam.
Di temaram lampu kamar hotel keduanya berpelukan, bercumbu, berpagut untuk merenda cerita hari esok.
****
Apa ini pertanda runtuhnya nilai perkawinan, nilai luhur yang harus dia genggam, tata nilai yang harus dipertahankan demi keutuhan rumah tangganya. Tali perkawinan yang ujung-ujungnya tak lagi bisa ditautkan kembali. Semua tanya yang mengganjal di hati Firjoun tak pernah terjawab. Firjoun termangu dalam kegamangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis komentar anda , untuk menambah dan memperbaiki kualitas blog kami