Sabtu, 03 November 2012

Menengok Musik Kendang Kempul Banyuwangi

Oleh: Omar Effendy

Budaya adalah olah akal budi manusia yang merupakan manifestasi dari rasa dan karsa untuk dinikmati dan dipelihara. Budaya lebih populer kita sebut dengan “Culture” banyak mengandung pengertian dan penafsiran. Budaya merupakan warisan para leluhur yang sering kita dengar dan rasakan dan bahkan kita juga termasuk pelakunya. Ruh budaya yang telah mengurat dan mengakar di seantero negeri iniIndonesia negeri yang kaya akan khazanah budaya dibandingkan dengan negeri lain.
Namun sayang kekayaan budaya yang kita miliki terkadang dinodai dan dinafikan begitu saja oleh pelaku budaya itu sendiri. Yang akan saya sampaikan di sini adalah fokus ke budaya Banyuwangi. Banyuwangi adalah sebuah wilayah yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Banyuwangi mempunyai wilayah strategis, letaknya ujung timur pulau Jawa bersebelahan dengan pulau Bali. Dan perlu kita ketahui Bali juga sangat kaya dengan macam ragam budaya. Dengan posisi wilayah yang berdekatan ini sedikit banyak budaya- budaya Banyuwangi pun juga terpengaruh dengan adat budaya Bali yang sangat familiar di seluruh wilayah nusantara. Banyuwangi yang kaya dengan budaya ini pasti tak lepas dari warisan adat istiadat para leluhur. Budaya Banyuwangi yang terdiri dari musik-musik tradisional seperti gandrung , angklung, kendang kempul dan masih banyak budaya lain yang ada di Banyuwangi. Gandrung yang jadi primadona adat daerah Banyuwangi sampai terkenal di manca negara, bahkan jadi obyek penelitian para sarjana manca negara. Begitu juga musik tradisional Banyuwangi lainnya seperti kendang kempul, kendang kempul ini merupakan satu varian seni tradisional Banyuwangi dengan corak musik kolaborasi antara musik modern yaitu dangdut dengan musik tradisional Banyuwangi kendang (kendang keplak) dengan kempul dan gong(sejenis alat musik tradisional yang berbahandari logam kuningan ) yang dipadu dan diselaraskan dengan lirik lagu berbahasa osing, bahasa asli daerah Banyuwangi. Seiring kemajuan zaman, karena kegelisahan seniaman-seniman muda Banyuwangi, kendang kempul yang dulu di tahun delapan puluhan stagnan begitu saja tak ada perkembangan dalam berkesenian, tapi mulai awal tahun dua ribuan perkembangan musik kendang kempul ini sangat maju pesat, baik produksi lagu-lagu baru, maupun juga group-group musik yang sangat menjamur, yang pasti juga banyaknya para pekerja seni, dari sisi penyanyi maupun para musisisnya. Ide kreatif para seniman muda patut kita hargai dan kita acungi jempol. Tapi sangat disayangkan dengan pesatnya perkembangan musik kendang kempul Banyuwangi ini tidak barengi dengan mutu atau kualitas isi dari syair syair lagu-lagunya. Lagu-lagu kendang kempul Banyuwangi sangat familiar di telinga seluruh masyarakat Banyuwangi bahkan masyarakat Indonesia umumnya. Banyak lagu-lagu kendang kempul yang syairnya cenderung seronok, kurang pantas didengar atau dinikmati oleh telinga warganya, terutama oleh para seniman senior yang sangat prihatin dengan hal ini, karena mereka yang senior ini lebih tahu konsep bagaimana cara berkesenian yang baik, tidak asal mengawinkan budaya modern dengan tradisional, tapi mereka sangat menghargai nilai seni itu sendiri. Para penyanyi senior Banyuwangi seperti Yuliatin, Sumiati dan Niken Arisandi tidak mau menyanyikan lagu-lagu daerah ini dengan asal nyanyi tanpa memfilter dulu, mana lagu yang pantas atau tidak untuk dinyanyikan, dari siapa pencipta lagunya. Para pencipta lagu senior seperti Bung Sutrisno, Mahfud , Fatrah Arbal, Endro Willis dan lainnya mereka sangat mempertahankan kualitas dalam mencipta baik dari segi isi dan lirik lagu maupun aransemennya . Begitu juga para produserpun sangat selektif dalam memilih penyanyi, mereka yang layak rekam hanya yang suaranya benar-benar bagus dan bisa dinikmati, bukan asal penyanyi yang bisa berjingkrak-jingkrak di panggung tapi dengan modal suara pas-pasan. Saat ini sangat lekat di telinga kita sebagai penikmat lagu-lagu kendang kempul Banyuwangi, kita sering mendengar lagu-lagu Banyuwangi yang sangat cenderung vulgar ke arah pornografi seperti lagu Ketan Endog Susu, Bolong Suwek, Dikeloni, Kroso Enak dan masih banyak lagu- lagu yang sejenis itu. Karya-karya ini diciptakan oleh kreator –kreator muda yang masih perlu pengarahan dari seniman-seniman senior yang lebih berpengalaman, walaupun toh tidak menafikan kreatifitas mereka dalam mencipta juga menyanyikan banyak yang berbobot. Ini merupakan keprihatinan kita kalau lagu-lagu semacam ini terus berkibar di bumi Banyuwangi, ini sebuah pekerjaan rumah kita yang harus tetap melestarikan budaya Banyuwangi, terutama dari Dewan Keseniana Blambangan, juga Dinas Pariwisata Banyuwangi yang punya kewenangan untuk menyensor lagu-lagu tersebut sebelum masuk dapur rekaman dan kemudian diedarkan ke masyarakat. Sebenarnya banyak cara untuk memajukan produktivitas seni Banyuwangi ini, yaitu dengan menciptakan sebuah karya lagu yang mendidik, tidak asal mengarang, tapi mencipta dengan perenungan mendalam, sehingga terciptalah sebuah lagu yang kuailifait, tidak asal- asalan, sebuah karya yang bisa dinikmati seluruh masyarakat. Dengan mendengarkan musik yang berkualitas, mendidik, penuh nasehat, masyarakat kita akan dapat pencerahan, terhibur sekaligus terdidik. Mudah-mudahan dengan kreativitas yang terarah oleh para pekerja seninya, musik kendang kempul Banyuwangi semakin maju dan jaya di blantika musik Nusantara. JAYALAH MUSIK BANYUWANGI, JAYALAH INDONESIA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis komentar anda , untuk menambah dan memperbaiki kualitas blog kami